Bima, Sudut Kecil Ruang Hidup Rakyat
- Details
- Published on Monday, 26 December 2011 21:35
- Written by Pius Ginting
Sekali masa, Marx menulis surat bahwa era kapital pada masa pertengahan abad 19 belum mendekati usai. Ruang luas untuk berkembang masih tersedia. Kapital baru berkembang di sudut kecil dunia (a little corner of the world), benua Eropa Barat. Banyak ruang benua belum dieksploitasi, jadi sumber bahan mentah dan lalu pasar tambahan. Tambang di Papua belum lagi dipetakan, bahkan riwayat panjang tambang timah di pulau Bangka oleh kapital Belanda baru dimulai tahun 1850.
Aktivis dan Perlawanan Lokal
- Details
- Published on Tuesday, 17 February 2009 02:36
- Written by Mulyani Hasan
Gerakan perlawanan rakyat semakin hari semakin terbenam, sementara cengkraman kapitalisme dan kekuasaan penyelenggara negara yang menindas terus berganti rupa dan semakin mendapat bentuknya yang matang. Siapa dan dimanakah sebenarnya rakyat itu berada? Ketika tumpukan kertas dan kwitansi menjualnya di laci-laci para korporasi dan lembaga donor yang konon berniat mulia membantu keberlangsungan demokrasi.
Berdamai dengan Kenyataan
- Details
- Published on Sunday, 27 January 2008 01:36
- Written by Samsir Mohamad
Kita semua mengetahui dan menyaksikan, kenyataan adalah kenyataan—disukai atau sebaliknya. Kenyataan tidak bisa ditolak—maksimal bisa diabaikan, diterima, dituruti atau disanggah. Itulah yang dituntut oleh kenyataan pada kita. Artinya ialah sebuah conditio sino quanon yang tidak terelakkan. Jika tidak, maka kita hanyalah akan menjadi sekawan hampa makna. Ringkasnya, kita dituntut untuk menyikapi kenyataan yang dihadapi.
Samsir Mohamad: Kiri, Sejarah dan Asas
- Details
- Published on Saturday, 29 December 2007 23:59
- Written by Rumah Kiri
Saya sebagai seorang awam, sebagai seorang warga negara biasa saya terkaget-kaget kalau mendengar uraian-uraian baru, imbuhan-imbuhan, tambahan-tambahan—tentang sejarah Indonesia-ed—dari yang selama ini tidak pernah diungkapkan. Inilah yang saya maknai bahwa kebenaran itu tidak terkalahkan. Bagaimanapun orang menutupinya, proses itu akan berlangsung, tidak bisa dihentikan oleh apapun kecuali mati semua. Selama masih ada yang hidup dan nyawa manusia, proses itu tidak bisa dielakkan. Nah, dua hal yang ingin saya kemukakan. Pertama, ada kata-kata "kiri" dalam uraian romo (Baskara T. Wardya-ed) tadi. Apa kiri itu? Secara umum, awam, di negeri ini kiri itu dianggap komunis. Padahal, sejauh yang saya tahu, yang disebut kiri itu adalah komponen masyarakat yang tidak betah pada keadaan yang sedang mapan. Itu kapan saja.
Baskara T. Wardaya: Tentang Peralihan Kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto
- Details
- Published on Saturday, 29 December 2007 23:59
- Written by Rumah Kiri
Topik diskusi yang diberikan kepada saya malam ini adalah sekitar transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Kebetulan saya juga pernah membahas hal itu dalam sebuah buku berjudul Membongkar Supersemar. Topik itu saya pakai untuk melihat bagaimana transisi pemerintahan di bawah Presiden Soekarno ke kekuasaan yang baru di bawah Presiden Soeharto. Bagi saya peralihan dua tokoh tersebut bukan hanya peralihan dua pejabat saja, tetapi juga menentukan arah dan karakter dari negara Indonesia.
Samsir Mohamad: Revolusi yang Dikompromikan
- Details
- Published on Tuesday, 18 December 2007 22:10
- Written by Rumah Kiri
Kita bernama Indonesia itu belum lama yaitu tahun 1850. Nama itu pun bukan kita (bangsa Indonesia-ed) yang membuat, tapi orang lain. Sumpah Pemuda saya sebut sebagai peristiwa monumental. Rendra pernah menulis bahwa Sumpah Pemuda itu lebih agung, lebih besar daripada Borobudur. Sebelum Sumpah Pemuda lahir, barangkali karena posisi geografis kita tercerai-berai dalam kepulauan, organisasi pemuda yang ada ketika itu mengikuti posisi geografisnya: Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Selebes.
Hilmar Farid: Nasionalisme Indonesia Berhenti di Titik Kenyataan Politik
- Details
- Published on Tuesday, 18 December 2007 22:10
- Written by Rumah Kiri
Saya mulai dengan pernyataan bahwa sejarah Indonesia itu penuh mitos, dan Sumpah Pemuda adalah salah satunya. Jangan salah paham dulu. Mitos itu tidak selalu berarti negatif sehingga harus ditinggalkan. Banyak mitos yang berguna seperti juga kepercayaan. Sumpah Pemuda menjadi mitos bukan kesalahan orang-orang yang membuat Sumpah Pemuda, tetapi tafsir-tafsir yang datang kemudian. Sedikit saja sebagai konteks, harus diingat bahwa 28 Oktober 1928, terjadi dua tahun setelah pemberontakan PKI 1926. Setelah itu lanskap politik di Hindia Belanda berubah total. Fase pertama dari nasionalisme Indonesia itu sangat radikal.
