Pada 9 April lalu, Indonesia menyelenggarakan pemilu ke-4nya yang “demokratis” semenjak kemerdekaannya pada tahun 1945. Yang dibutuhkan di dalam periode ini adalah sebuah gerakan buruh dengan partai massa pekerja yang sejati. Ini telah mewarnai perdebatan di dalam gerakan Kiri termasuk perdebatan mengenai boikot. Kita harus kembali lagi ke Lenin dan mempelajari bagaimana dia menghadapi masalah Duma Tsar.

Dua kandidat bersaing di dalam “pemilihan presiden” Iran, tetapi rejim Iran sudah menentukan siapa yang akan menang jauh sebelum pemilihan ini diselenggarakan. Walaupun Mousavi adalah “oposisi loyal” yang moderat, sebagian besar rakyat Iran menggunakan suara mereka untuk menyuarakan oposisi mereka terhadap rejim ini. Segera setelah “hasil pemilihan” diumumkan, kerusuhan meledak di jalan-jalan, yang menunjukkan kemarahan dan ketidakpuasan rakyat. Peristiwa ini menandai sebuah fase baru di dalam perkembangan Revolusi Iran.









