The Fed Naikkan Suku Bunga, Ini Dampaknya Untuk Sektor Properti

The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,5 persen hingga nantinya mencapai 1 persen. Hal ini akan direspon oleh BI dengan menaikkan suku bunga acuan sehingga suku bunga KPR akan ikut naik dan dikhawatirkan menjadi kendala untuk tren peningkatan bisnis properti yang mulai terjadi.

Bank sentral Amerika The Fed kembali akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,5 persen. Suku bunga dana federal ini akan terus dinaikkan dengan target di kisaran 0,75 persen hingga 1 persen. The Fed menyebut kebijakan ini untuk menetralisir kondisi inflasi di Amerika yang secara tahunan (yoy) mencapai 8,4 persen yang merupakan rekor tertinggi selama 41 tahun terakhir.

Antisipasi lainnya selain kenaikan suku bung, The Fed juga akan terus menyusutkan neraca besar yang telah menyentuh 9 triliun dollar Amerika pada awal Juni 2022. Situasi ini terus direspon oleh pasar keuangan global terlebih tingkat inflasi yang hingga saat ini belum bisa dikendalikan termasuk dampak akibat perang Rusia-Ukraina dan situasi pandemi Covid-19.

Dalam peryantaannya, Direktur Eksekutif Jubolee USA Network Eric LeCompte mengatakan, akibat dari kenaikan suku bunga ini akan dirasakan di negara-negara lain di luar Amerika. Kebijakan ini dipastikan akan memukul para pelaku bisnis ritel di Sri Lanka, petani di Mozambik, dan keluarga-keluarga di negara-negara miskin seluruh dunia. Dampak yang paling pasti yaitu biaya pinjaman yang lebih tinggi hingga nilai mata uang yang menurun (depresiasi).

Selanjutnya kenaikan suku bunga di Amerika ini juga akan berdampak pada perekonomian Indonesia termasuk sektor properti. Menurut CEO Grant Thornton Indonesia Johanna Gani, dengan naiknya suku bunga yang diberlakukan The Fed, Bank Indonesia (BI) dipastikan akan mengikuti kenaikan ini dengan menaikkan juga suku bunga acuannya.

“Kenaikan suku bung aini untuk jangka pendek akan langsung memicu terjadinya tekanan ekonomi di Indonesia. Secara umum konsumen belum siap menghadapi kenaikan suku bunga dan kenaikan suku bunga The Fed ini akan berdampak pada bunga KPR, bunga kredit kendaraan, hingga bunga pinjaman modal usaha yang akan mengalami kenaikan juga,” katanya.

Dampak lain yang akan terjadi yaitu pada nilai tukar mata uang rupiah yang akan melemah atau terdepresiasi. Di sisi lain, kekuatan nilai tukar mata uang tidak hanya ditentukan oleh faktor global tapi juga fundamental ekonomi suatu negara. Saat ini fundamental perekonomian Indonesia masih cukup baik.

Untuk itu pemerintah harus bersiap karena dari sisi APBN pelemahan rupiah bisa membebani pembayaran utang dan obligasi dalam dolar. Sementara dari sisi moneter BI harus bisa menjaga volatilitas dan arus modal asing sehingga pelemahan rupiah bisa ditahan dalam level yang tetap aman.

“Pemulihan ekonomi dan kuatnya fundamental masih akan menjadi penopang pasar dan itu yang harus dipertahankan. Salah satunya dengan mempertahankan suku bunga supaya sektor bisnis seperti properti yang mulai bangkit bisa tetap dijaga dan menjadi pendorong perekonomian nasional seperti yang diinginkan oleh pemerintah,” pungkasnya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.