Pesona Properti di Wilayah Margonda Raya

Kota Depok di Jawa Barat merupakan salah satu kawasan penyangga Ibu Kota Jakarta yang menjadi incaran para pencari properti khususnya rumah tapak maupun apartemen. Dan, kawasan yang menjadi primadona bagi para investor adalah Margonda Raya. Selain pusat bisnis, kawasan Margonda juga dekat dengan beberapa fasilitas publik serta infrastruktur. Lantas, bagaimana perkembangan kawasan Margonda Raya dalam dua tahun terakhir? 

Wilayah Margonda Raya sejak lama menjadi salah satu basis pendidikan tinggi di Provinsi Jawa Barat. Tak heran, sejak dua dekade terakhir Margonda Raya terus disesaki berbagai proyek properti mulai dari apartemen, ruko, pusat perbelanjaan atau mal, hotel, rumah sakit moda transportasi kereta api listrik (KRL), dan berbagai perguruan tinggi swasta.

Sebelum masa pandemi, pembangunan apartemen berbasis Transit Oriented Development (TOD) sangat masif di kawasan yang diambil dari nama salah satu pahlawan asal Jawa Barat ini. Konsep TOD sendiri merupakan kawasan hunian vertikal yang terintegrasi dengan transportasi umum seperti stasiun kereta atau terminal bus.

Beberapa proyek apartemen itu sebut saja Samesta Mahata Margonda (Perumnas), Mazhoji Apartment (PT PP Properti Tbk), Evenciio Margonda (PT PP Properti Tbk), MetroStater Residence (Trivo Group), hingga Female Apartment Adhigrya Pangestu (PT Graha Loka Pangestu).

Menariknya, dari sejumlah proyek apartemen berkonsep TOD tersebut yang pembangunannya hampir selesai saat ini hanya Samesta Mahata Margonda. Apartemen ini terintegrasi langsung dengan Stasiun Pondok Cina, dan nantinya akan dibangun skybridge menuju Universitas Indonesia. Selanjutnya Female Apartment dan Apartemen Evenciio yang dekat dengan Stasiun Universitas Indonesia.

Salah satu apartemen yang belum menunjukkan tanda-tanda kapan akan dibangun adalah Apartemen Mazhoji yang mulai diperkenalkan pada akhir tahun 2019 lalu. Proyek apartemen berkonsep Jepang ini rencananya akan dibangun di atas lahan seluas 4.653 m2 dan sebelumnya direncanakan serah terima di kuartal I tahun 2024. Dilansir dari laman depokrayanews, banyak konsumen mengaku kecewa karena sudah terlanjur membayar tanda jadi bahkan sudah melunasinya. 

Konsultan properti LJ Hooker, Elly Dwi Sarwanti mengatakan, kondisi properti di kawasan Margonda selama dua tahun terakhir mengalami penurunan dengan tingkat keterisian hunian pada apartemen hanya 50 persen. “Masih sepi, merosot dengan tingkat keterisian hunian hanya 50 persen,” katanya kepada Properti Indonesia, Senin (4/7).

Selain penjualan apartemen yang masih sepi, hal ini terjadi pada penjualan rumah seken. Saat ini rata-rata harga rumah seken di Margonda mencapai Rp2 miliar hingga Rp3 miliar. Lanjut Elly, pertumbuhan rumah seken juga masih belum seramai tahun-tahun sebelum pandemi. “Kalau sebelum pandemi saya bisa jual 4 rumah dalam satu tahun, sekarang untuk jual satu saja berat,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.