Rumah Kiri

Munir dan Efek Rumah Kaca


Efek Rumah Kaca, sebuah kelompok musik hadir di toko buku Ultimus di Bandung, kemarin malam. Dia bicara soal Munir dan perubahan sosial melalui musik. Malam itu memang sedang ada diskusi dan pemutaran film bertema Musik, Budaya Populer dan Perubahan Sosial, salah satu rangkaian kampanye penyelesaian kasus Munir. Kali ini yang berbicara adalah para musisi independen. Mereka adalah Herry Sutresna, yang akrab dipanggil Ucok dari Homicade, sebuah kelompok musik Hip Hop dan Efek Rumah Kaca, kelompok musik pop.

Efek Rumah Kaca menciptakan lagu berjudul di udara untuk Munir. Lagu itu beredar di internet dan mampu menjadi hits. Kelompok musik itu sudah ada sejak 2001. Namun, nama Efek Rumah Kaca baru tercetus sekitar tahun 2006, diambil dari salah satu judul lagu mereka. "Tidak ada nilai filosofi dari nama itu," ujar Cholil Mahmud, vokalis dan gitaris Efek Rumah Kaca. Selain Chalil, ada Adrian, pemain bass dan Akbar, penabuh drum.

"Dulu sebelum ada nama itu kami tak punya nama, karena memang gak pernah manggung juga. Kami bermusik di dalam kamar. Hidup irit, nonton tv pakai timer biar hemat listrik, beli makan gak pakai plastik," tandasnya.

Saya menemui Chalil setelah dia bicara di hadapan para peserta diskusi. Berikut ini wawancara saya dengan Chalil Mahmud, sang vokalis Efek Rumah Kaca.

Mengapa membuat lagu untuk Munir?

Ingin agar isu munir tidak hanya beredar di kalangan aktivis. Ini bentuk PR (public relation) yang lain dalam budaya pop. Kami membuat lagu itu dalam kemasan musik pop, bukan yang berat dan segmented. Diisi dengan lirik lagu perjuangan Munir supaya masyarakat lebih tahu.

Mengapa dikemas dalam budaya pop?

Karena sesuatu yang baik kalau semua orang menerapkannya akan menjadi semakin baik. Minimal orang orang tahu dulu lalu mengarah pada kesadaran, apa sih yang dilakukan Munir, dan apa yang dilakuan negara terhadap Munir. Setelah itu, baru ada tindakan. Lagu ini berfungsi untuk memberi informasi agar mereka sadar kondisi Munir yang membela orang lalu dibunuh. Dan perlu melahirkan "Munir-Munir" baru, makanya musiknya dikontruksi sedemikian rupa agar lagu itu menimbulkan spirit bagi para pendengarnya. Entah berhasil entah tidak.

Kenapa Munir?

Karena Munir adalah ikon yang lagi trend, dia begitu hits dibicarakan dimana-mana, terutama di media-media dan kalangan aktivis. Karena saya merasa Munir figur yang baik, bukan berarti mengkultuskan. dan spiritnya itu bagus, ya perlu diutarakan. Kenapa bukan orang lain, karena untuk menyampaikan pesan kita perlu strategi. Jadi, kira-kira isu mana yang mudah disampaikan dan orang bisa menerima, itu yang kita ambil. Kebetulan yang lagi tren Munir, ya itu yang kita ambil. Ada perdebatan yang timbul Munir bisa dijual, bisa iya. Tapi kita berusaha menjual.

Jangan-jangan Munir lambat laun menjadi mitos, dirayakan tiap tahun tanpa mengenal lagi subtansinya seperti yang dikatakan oleh Ucok Homicade, tanggapan Anda?

Bisa saja. Mungkin bisa menjadi mitos. Efek Rumah Kaca malah "diuntungkan" oleh kematian Munir, jadi populer gara gara kematian Munir.Tapi itu kondisi yang bisa tercipta karena permasalahan sebelumnya. Saya anggap orang belum tahu Munir, bagaimana bisa mengkultuskan, tahu saja belum. Mungkin bagi yang sudah tahu bisa jadi mitos. Kalau ke depan jadi mitos, ini perlu dliluruskan, bahwa yang dimaksud dalam lagu itu bukan Munir-nya, tapi spiritnya, supaya melahirkan "Munir-Munir" Baru.

Bagaimana Anda melihat strategi kampanye membela Munir?

Kurang variatif, artinya mereka harus menyiasati mengapa masyarakat tertutup, karena mereka gak tahu, dan kita tidak bisa menyalahkan mereka. Kita harus tahu ladang mereka apa,mau mereka apa? tapi disusupi dengan pesan pesan, persis seperti kerja intelijen. Tapi ini strategi, untuk sesuatu yang baik, kita gak salah melakukan strategi. Kita tidak bisa langsung seperti terhadap orang-orang yang sudah tahu dan paham secara teoritik dan empirik, tapi untuk orang-orang yang belum tahu kita butuh sesuatu yang segar. lihat saja talkshow di radio-radio, seringnya para aktivis yang bicara, atau orang-orang tua. Anak muda justru apatis. Ini yang harus dibuka.

Saran Anda?

Perlu variasi dalam media-media lain. Tapi untuk Efek rumah Kaca, cukup strategis, terlihat di website kami, ada komentar-komentar bahkan yang tadinya tidak tau menjadi tau siapa itu Munir.

Apa yang ingin disampaikan oleh Efek Rumah Kaca sebagai seniman melalui lirik dan musik?

Efek Rumah Kaca musiknya pengen bisa menyampaikan pesan yang bagi kami harus disampaikan, meski menurut orang lain tidak penting. Pesan itu harus berisi, selain menghibur dan enak didengar. Seni bukan untuk hiburan saja, tapi potret sosial yang ada disekiling kita. Bisa pengalaman pribadi, teman, tetangga, tapi itu real bukan hanya fantasi. Kalau sudah dipotret,harus ada posisi dan tindakan.

Posisi Efek Rumah Kaca dalam konteks realitas Sosial dimana?

Efek Rumah Kaca bisa sebagi pemotret, bisa juga melawan. Misal dalam persoalan Rancangan Undang-Undang Pornografi, kami jelas jelas menolak, karena menimbulkan "pasal karet". Untuk sementara ini, Efek Rumah Kaca, masih memotret. Yang jelas kami menolak kekerasan, tapi kami belum tentu juga dikatakan kiri, sebab kiri itu variannya banyak. Artinya posisi kami tergantung konteks yang dilihat.

Bagaimana dengan konsep seni untuk seni?

Saya bukan penganut konsep itu. Bagi saya seni harus membawa perubahan, punya kekuatan untuk mengubah, dan kita harus memanfaatkan itu.

Mengapa tidak terjun ke major label?

Kalau ada major label yang mau, kita sih tak ada masalah, selama kontennya tak diubah. Tapi sulit. Kita mempermainkan uang mereka tanpa mau mengikuti kemauan mereka, itu sulit. Makanya kami bergerak kecil kecilan.

Bagaimana Efek Rumah Kaca memanfaatkan ruang yang kecil itu untuk memaksimalkan pesan dan ide-ide Efek Rumah Kaca sehingga banyak didengar orang?

Kami melakukan kerja-kerja persis seperti yang dilakukan major label. kita kirim single dan demo ke radio-radio. Soal diputar atau tidak bukan urusan kita, yang penting kita berusaha. Kami ingin ideologi yang ada dalam lagu kami tersampaikan, karena itu baik.

Bagaimana menghidupi musik?

Saya bekerja untuk menghidupi musik. Saya merasa musik itu sakral, saya tak mau memainkan musik yang tidak saya suka. Musik yang saya suka adalah musik yang menyampaikan pesan dan menjadi alat perubahan sosial. Saya lebih memilih hidup sengasara, daripada jadi artis ngetop tapi memainkan musik yang tidak saya suka. Saya sudah sampai pada posisi itu mungkin karena proses yang saya lalui. Awal-awal sih ada keinginan disukai cewek, dan itu gak pernah kejadian juga. Itu sudah lewat.[end]

You are here: Home Diskursus Gagasan Wawancara Munir dan Efek Rumah Kaca