Rumah Kiri

Dokumentasi Konferensi Demokrasi di bawah Tirani Modal

Kabar Dari Depok Tentang Tirani Modal


Di Universitas Indonesia, hari ini (05 Agustus 2008) berlangsung konferensi nasional bertajuk Warisan Otoritarianisme: Demokrasi dan Tirani Modal. Konferensi itu bertujuan mengenali permasalahan yang dihadapi demokrasi Indonesia dengan membedah akar-akar otoritarian warisan orde baru. Lebih dari 200 orang memenuhi gedung Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Depok.

Ahmad Safi’i Maarif, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta mengatakan, penyebab utama mengapa Indonesia masih belum juga siuman sampai detik ini adalah kebijakan politik yang dijalankan oleh para elit jauh dari kehendak dasar negara dan Undang-Undang Dasar 1945. Padahal tujuan kemerdekaan adalah kesejahteraan rakyat.

“Orang miskin di Indonesia kini mencapai 100 juta orang dari total penduduk 240 juta orang, ” kata Maarif dalam pidato pembukaan konferensi pagi tadi. Itu terjadi juga di dunia.

Sri Edi Swasono, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia memandang persoalan yang terjadi di Indonesia termasuk Orde Baru adalah bagian dari politik ekonomi internasional yang memihak pada kekuasaan modal. Semuanya diserahkan pada pasar, sehingga pemberlakukan Pasar Bebas menggusur orang miskin.

Dia juga menjelaskan, prinsip pasar bebas itu berasal dari ekspresi perorangan yang membuat kontrak sosial antar sesamanya. Sedangkan Indonesia ini didirikan dari akar persamaan bukan keinginan individu. Dia juga merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 yang mensyaratkan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

“Indonesia tak berhasil dalam pendidikan, tapi gagal mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya.

Pembicara lain seperti Andrianof Chaniago juga memaparkan bagaimana masalah modal merasuk ke dalam partai politik. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia ini mengatakan bahwa kepentingan modal masuk melalui semua mekanisme partai mulai dari kongres partai, penerimaan calon kepala daerah hingga pencalonan anggota legislatif. Kepentingan modal dalam ranah partai politik ini menyebabkan partai politik tidak lagi bersikap independen untuk mengambil setiap kebijakan politiknya.

Konferensi ini bertujuan untuk membongkar dan melakukan pemetaan bagaimana kekuasaan modal mengendalikan kehidupan manusia di Indonesia. Konferensi ini dikaji dalam berbagai sudut kajian ilmu dan pengalaman. Acara ini juga diramaikan dengan pameran seni dan pemutaran film. Konferensi ini akan berlangsung dari hari ini, 5 Agustus hingga 7 Agustus 2008. Dari hasil konferensi itu, akan dibuat resolusi politik.

Konferensi terselenggara atas kerjasama beberapa lembaga di antaranya; Elsam, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, Perkumpulan Praxis, Reform Institut.